Flavonoid juga menampilkan efek anti agregatif platelet darah. Ini terjadi
kemungkinan karena propolis memecahkan reaksi berantai oksidasi lipid yang
diinisiasi oleh radikal bebas. Telah terbukti bahwa anion superoksida
memperpendek periode paruh yang diturunkan pada endothelium-derived relaxing
factor (EDRF), yang ditandai dengan efek antiaggregative dan relaksasi pada
pembuluh darah. Radikal bebas hidroksil juga menghambat prostasiklin sintetase
yang bertanggung jawab dalam transformasi peroksida
prostaglandin ke prostasiklin, yang bertindak
sama dengan EDRF. Terlepas dari kemampuan untuk mengurangi produksi radikal
bebas dan aktivitas antiaggregative, flavonoid juga kemungkinan besar memiliki
kemampuan membentuk ikatan dengan trombosit darah [91,92].
Tampilkan postingan dengan label kanker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kanker. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Agustus 2015
Anti Kanker
Efek Anti Kanker (Anti Karsinogenik)
Propolis mengandung zat aktif secara biologis yang dikenal sebagai promotor
yang merangsang proliferasi sel dan juga apoptosis (kebalikan dari proliferasi).
Di antaranya adalah asam kafeat (caffeic acid), caffeic phenyl ester (CAPE), artepillin C,
quercetin, naringenin, resveratrol, galangin, dan genistein [81].
Flavonoid yang dikonsumsi bersama dengan makanan memiliki efek langsung pada
proliferasi sel, diferensiasi dan apoptosis sel kanker, terutama berkenaan
dengan kanker saluran pencernaan karena kontak langsung dengan
ingesta. Efek sitotoksik langsung flavonoid yang terkandung
dalam propolis sangat penting dalam kasus kanker payudara dan tumor
papillomatous saluran kemih [82]. Flavonoid dalam
propolis menghentikan proliferasi berbagai jenis sel kanker, terutama sel
leukemia monositik dan limfatik [83]. Mekanisme
anticancerogenic terdiri atas penghambatan tirosin
kinase C, yang berpartisipasi dalam pertumbuhan dan proliferasi sel kanker
[84].
Label:
anti bakteri,
anti inflammatory,
anti kanker,
anti virus,
antioksidan,
CAPE,
flavonoid,
herbal,
Indonesia,
kanker,
kanker rahim,
kanker stadium IV,
peroksida,
phenolic acid,
propolis
Asam-asam Fenolat, Zat Aktif Propolis
Asam-asam fenolat adalah senyawa yang tersusun dari cincin benzene, gugus
karboksil dan gugis hidroksil Aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat
ditentukan oleh jumlah gugus hidroksil pada molekulnya dan efek sterat-nya
(steric effect) [23]. Posisi gugus karboksil, seperti halnya tipe
substitusi pada cincin aromatik, mempengaruhi aktivitas antioksidatif
senyawa-senyawa ini. Pada kenyataannya energi ikata antara ato hydrogen dan atom
oksigen dalam gugus hidroksil yang terikat pada sistem cincin aromatik lebih
lemah dibandingkan ikatan serupa pada senyawa-senyawa alifatik
(aliphatic). Penurunan kepadatan eektron dalam atom oksigen merupakan
hasil efek resonansi dari cincin aromatik, oleh karena itulah atom hydrogen yang
dilepas dari gugus hidroksil dan senyawa-senyawa frnolat menjadi radikal fenoksi
(phenoxy radicals) yang relative stabil karena peningkatan muatan di
dalam cincin aromatik (Gambar 1). Penggabungan radikal fenoksi menghasilkan
quinines atau masuk ke dalam reaksi lain, seperti
contohnya dimerization atau substitusi radikal [24,25]
Aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat berbanding terbalik dengan besarnya
enthalphy pemecahan ikatan O-H di dalam lingkungan polar lemah.
Mekanisme peningkatan lanungan ikatan O-H dalam suatu cincin fenolat dalam
transfer atok hydrogen (HAT) menjadi radikal superoksida [26]. Turunan
monohidroksi dari asam benzoate dengan satu gugus hidroksil dalam posisi ortho
atau para dalam cincin tidak menunjukkan aktivitas antioksidatif, sebaliknya
turunan-turunan radikal pada posisi meta-hidroksi membangkitkan radikal dalam
fase terlarut. Hal ini terkait dengan kemampuan gugus karboksil menarik electron
dan mempengaruhio posisi orto- dan para- dalam cincin. Asam-asam fenlat
monohidroksi adalah pemulung efektif untuk radikal hidroksil. Selanjutnya,
aktivitas antioksidatif meningkat dalam asam-asam dengan satu gugus hidroksil
bersama dengan keberadaan gugus metoksi tambahan di dalam cincin. Substitusi
satu gugus alkil atau satu gugus metoksi dalam posisi orto meningkatkan
stabilitas dan merupakan kasiatr antioksidan dari asam-asam fenolat [27]
Turunan dihidroksi asam benzoat menunjukkan kasiat antioksidatif sangat kuat
ketika gugus hidroksilnya berada pada posisi 3 dan 5. Diantara turunan asam
benzoat, asam galat (gallic acid) mengandung tiga gugus hidroksil pada
posisi 3, 4 dan 5, telah dikarakterisasi sebagai antioksidan sangat baik dan
kuat [24]. Esterifikasi gugus hidroksil asam galat menurunkan kemampuan
antioksidannya.
Pengaruh penambahan gugus hidroksil dalam cincin aromatik meningkatkan
aktivitas antioksidatif. Hal ini mungkin teramati pula pada kasus asam sinamat
(cinnamic acid). Asam kafeat (caffeic acid) memiliki efek
antioksidatif lebih kuat dan diikuti oleh Asam kumarat (coumaric acid)
[28,29]
Kekuatan antioksidatif asam-asam fenolat ditentukan oleh letak gugus
karboksil. Grup karboksil memiliki impak negative pada kasiat donor dari
hidroksi benzoat dan turunan-turunannya. Dengan cicin samping yang mengandung
gugus etilen, asam hidroksi-sinamat menunjukkan kemampuan donor hydrogen yang
lebih besar dan radikal yang terbentuk dalam cara ini lebih mantap (stabil).
Oleh karena itu, turunan-turunan dari asam sinamat memilikikasiat antioksidatif
yang lebih kuat dibandingkan turunan-turunan asam benzoat [23,30]. Introduksi
gugus etilen diantara cincin fenil (phenyl ring) yang mengandung gugus
hidroksi dalam posisi para- dan gugus karboksil, seperti pada asam p-kumarat
meningkatkan kasiat reduktif dari gugus hiodroksi dibandingkan dengan asam
sinamat. Asam ferulat (ferulic acid), dengan satu gugus metoksi pada
posisi 3 menunjukkan kemampuan untuk menstabilkan radikal-radikal fenoksi
dibandingkan dengan asam p-kumarat [24]. Namun demikian, substitusi hydrogen
dalam gugus hidroksil dengan gugus metal mungkin memiliki efek yang bervariasi
dalam aktivitas antioksidatif asam-asam febnolat, bergantung pada polaritas
lingkungan. Dalam fase lipofilik, turunan asam dihidroksi sinamat menunjukkan
kemampuan yang lebih besar untuk menginmobilisasi radikal-radikal bebas turunan
monohidroksi. Asam kafeat diindikasi memiliki reaktivitas lebih baikterhadap
radikal bebas dalam lingkungan berair dibandingkan asam ferulat. Asam ferulat
menunjukkan afinitas terhadap lipida, yang terkait dengan proses substitusi pada
Gambar 1 tentang oksidasi senyawa-senyawa fenolat [25].
Aktivitas antioksidatif
asam-asam fenolat berbanding terbalik dengan ukuran entalpi (enthalpy)
dari pemutusan ikatan O-H dalam suatu lingkuyngan polar yang lemah. Mekanisme
pemutusan ikatan O-H dalam cincin fenolat termasuk dalam transfer atom hydrogen
(HAT) ke suatu radikal superoksida (superoxide radicals) [26]. Turunan
monohidroksi asam benzoat dengan satu gugus hidroksil dalam posisi orto atau
para dalam cincin tidak menunjukkan aktivitas antioksidatif pada fase air,
berkebalikan dengan turunan radikal yang terbentuk dalam posisi
meta-monohidroksi. Hal ini terkait dengan kemampuan gugus karboksil untuk
menarik elektron dan mempengaruhi posisi orto atau para pada cincin fenolat.
Asam-asam monohidroksi adalah pemulung radikal hidroksil yang
efektif. Selanjutnya, aktivitas antioksidan meningkat dalam asam dengan
satu gugus hidroksil bersama dengan kehadiran gugus metoksi tambahan dalam
cincin. Substitusi gugus alkil atau metoksi pada posisi orto meningkatkan
stabilitas dan sifat antioksidan asam-asam fenolat [27]. Turunan-turunan asam
dihidroksi-benzoat menunjukkan aktivitas antioksidatif paling kuat ketika gugus
hidroksilnya berada pada posisi 3 dan 5. Diantara turunan-turunan asam benzoat,
asam galat (gallic acid), mengandung tiga gugus hidroksil pada posisi
3, 4 dan 5, yang telah berhasil dikarakterisasi memiliki kasiat antioksidatif
yang sangat baik [24]. Estrifikasi gugus karbnoksilpada asam galat menurunkan
kemampuan antioksidannya.
Pengaruh gugus hidroksil tambahan dalam cincin aromatik pada peningkatan
aktivitas antioksidatif dapat diamati juga dalam kasus asam sinamat. Asam kafeat
memiliki efek yang lebih kuat dari pada asam kumarat [28,29].
Kekuatan aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat ditentukan oleh lokasi
gugus karboksil. Gugus ini memiliki dampak negatif pada sifat donor
hidroksi-benzoate dan turunan-turunannya. Dengan memiliki rantai samping yang
mengandung gugus etilen, asam hidroksi-sinamat menampilkan kemampuan yang lebih
besar untuk menyumbangkan hidrogen dan dengan cara ini radikal dibuat menjadi
lebih stabil. Dengan demikian, turunan asam sinamat menampilkan sifat
antioksidan lebih baik dari pada turunan asam benzoat [23,30]. Pengenalan gugus
etilen antara cincin fenil yang mengandung gugus hidroksi pada posisi para dan
satu dan gugus karboksil, seperti pada asam p-kumarat, menyebabkan peningkatan
sifat reduktif dari kelompok hidroksil dibandingkan dengan asam sinamat. Asam
ferulat, dengan kelompok metoksi pada posisi 3 menampilkan kemampuan lebih besar
untuk menstabilkan radikal fenoksi dibandingkan asam p-kumarat [24]. Namun,
penggantian hidrogen di gugus hidroksil dengan gugus metil mungkin memiliki efek
bervariasi pada aktivitas antioksidatif asam fenolat, tergantung pada polaritas
lingkungan. Pada fase lipofilik, turunan asam dihidroksi-sinamat menampilkan
kemampuan yang lebih besar untuk melumpuhkan radikal bebas dibandingkan
turunan-turunan monohidroksinya. Asam kafeat memiliki reaktivitas yang lebih
baik terhadap radikal dalam lingkungan air dibandingkan asam ferulat. Asam
ferulat menampilkan afinitas untuk lipid, yang terkait dengan substitusi atom
hidrogen dalam gugus hidroksil dengan gugus metil. Oleh karena itu, asam ferulat
menunjukkan sifat yang lebih baik sebagai antioksidan dalam jenis lingkungan
ter-emulsi, seperti minyak dalam air, dibandingkan dengan asam kafeat [24].
Karena adanya gugus metoksi asam ferulat lebih efektif daripada asam p-kumarat.
Kelompok metoksi, sebagai donor elektron, menyebabkan peningkatan kemampuan
menstabilkan radikal-radikal ariloksi (aryloxy). Hidroksilasi diganti
dengan metoksilasi membuat senyawa struktur seperti asam ferulat menjadi senyawa
antioksidan yang lebih efektif. Dalam penelitian mereka pada oksidasi lemak,
Rice-Evans et al. menyimpulkan bahwa urutan aktivitas antioksidatif asam-asam
fenolat sebagai berikut: asam kafeat > asam ferulat > asam p-kumarat [24].
Brand-Williams et al. [31] menunjukkan bahwa asam ferulat menetralkan radikal
bebas lebih efektif daripada BHA (butylated hydroxyanisole) dan BHT (butylated
hydroxytoluene), sedangkan Gulcin membuktikan bahwa asam kafeat memiliki sifat
pelindung lebih kuat daripada BHT [32]. Aktivitas antioksidan asam fenolik
terdiri “pemulungan” radikal bebas (superoksida, hidroksil, dan radikal-radikal
superoksida hidroksil), mengkhelat ion logam (besi, tembaga), serta mengubah
aktivitas enzim dengan menghambat oksidase [33-35]
Propolis telah dikenal dan banyak diteliti sebagai antioksidan kuat pemulung RADIKAL BEBAS, termasuk yang dihasilkan oleh proses peradangan. Kasiat Utama Propolis adalah sebagai ANTIOKSIDAN; Melia Propolis dikemas dalam botol ukuran 6ml, 30 ml dan 55 ml, masing-masing dengan harga eceran Rp 110,000, Rp 275,000 dan Rp 440,000 per botol. Harga paket untuk menjadi member atau harga paket untuk member ada dua macam, GOLD : Rp 1,225,000 dan PLATINUM Rp 3,025,000 (sudah termasuk pajak penjualan 10%). Pemesanan via e-mail ke mssdramaga@yahoo.com.
Selasa, 11 Agustus 2015
Review Propolis Polandia
Terjemahan artikel Review di majalah "Molecules 2014, 19, 78-101"; “Structure and
Antioxidant Activity of Polyphenols Derived from Propolis” tulisan: Anna
Kurek-Górecka1, Anna Rzepecka-Stojko2, Michal
Górecki3, Jerzy Stojko4, Marian Sosada3 and
Grazyna Swierczek-Zieba1
- Silesian Medical College in Katowice, Mickiewicza 29, Katowice 40-085
- Department of Pharmaceutical Chemistry, School of Pharmacy with the Division of LaboratoryMedicine, Medical University of Silesia
- Department of Drug Technology, School of Pharmacy with the Division of Laboratory Medicine, Medical University of Silesia
- Department of Hygiene, Bioanalysis and Environmental Studies, School of Pharmacy with theDivision of Laboratory Medicine, Medical University of Silesia, Kasztanowa 3A,Sosnowiec 41-200, Poland
RINGKASAN
Propolis adalah sumber potensial antioksidan alami seperti asam-asam fenolat
dan flavonoid. Propolis mempunyai pengaruh (kasiat) biologi yang sangat luas dan
sudah digunakan sejak jaman kuna. Di dunia modern, senyawa-senyawa alami itu
diduga dapat digunakan untuk menetralkan (meniadakan) pengaruh-pengaruh buruk stress oksidatif yang merupakan penyebab penting berbagai macam penyakit
degeneratif seperti kanker, diabetes dan pengerasan (terbentuknya plaque atau
endapan) dan penyumbatan pembuluh darah arteri. Tinjauan ini bertujuan menampilkan
aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat dan flavonoid yang terkandung di dalam
propolis asal Polandia dan hubungannya dengan struktur kimia dan aktifitas
antioksidatif yang mempengaruhi manfaat medisnya. Data tentang aktivitas biologi
propolis diringkas pada tulisan ini, termasuk aktivitas anti bekteri,
anti-peradangan (anti-inflammatory), anti karsinogenik,
anti-aterogenik, efek estrogenik, juga sebagai menetral virus AIDS dan fungsi
reparative-regeneratifnya.
Kata-kata Kunci: propolis, aktivitas antioksidan, asam fenolat, flavonoid
Label:
anti inflammatory,
antioksidan,
CAPE,
flavonoid,
kanker,
kanker stadium IV,
melia propolis,
pemulung,
peroksida,
phenolic acid,
propolis,
radikal bebas
Rabu, 05 Agustus 2015
Kasiat Utama Propolis #4L Anti-angiogenik
4. Aktivitas Antiangiogenik
Angiogenesis
adalah proses bertahap pembentukan pembuluh darah. Proses ini diatur
secara ketat melibatkan migrasi, proliferasi, dan diferensiasi sel
endotel [1]. Peraturan angiogenesis tidak ada atau menyimpang pada
beberapa penyakit yang ditandai dengan perkembangan pembuluh darah
terus-menerus. Angiogenesis tidak lazim ini terjadi di lebih dari 80
penyakit, khususnya pada berbagai jenis kanker dan penyakit inflamasi
aterosklerosis [2, 3].
Menurut Keshavarz et al. [4], ekstrak propolis hijau mengandung
artepillin C dan CAPE secara signifikan mengurangi jumlah pembentukan
baru terbentuk dan ekspresi metalloproteinase (MMPs) dan produksi faktor
pertumbuhan endotel vaskular (VEGF) dari sel endotel [5]. Langkah yang
berbeda dari angiogenesis dapat dipengaruhi oleh propolis dan
komponennya. Propolis Brasil dan komponen utamanya, artepillin C, dapat
menghambat proliferasi sel endotel vena umbilikalis manusia (HUVEC),
serta migrasi sel dan tabung kapiler pembentukan endotel, dengan cara
yang tergantung dosis. Selain itu, artepillin C dapat menekan
angiogenesis baik secara in vivo maupun in vitro, sementara CAPE menghambat MMP-2, MMP-9, dan aktivitas VEGF [5, 6, 7, 8].
Efek dari propolis Brasil pada apoptosis HUVEC diselidiki oleh Xuan
et al. [9]. Pada konsentrasi rendah (12,5 mg/mL), polifenol dalam
ekstrak etanol propolis Brasil penurunan ekspresi integrin b4 dan p53
dan produksi ROS. Efek sebaliknya diamati pada konsentrasi polifenol
tinggi (25 dan 50 mg / mL), bersama dengan depresi potensial membran
mitokondria. Dengan demikian, dosis tinggi dari polifenol dari propolis
Brasil dapat menyebabkan apoptosis HUVEC dengan bertindak pada jalur
sinyal b4 dan p53 integrin, mengakibatkan gangguan potensial membran
mitokondria dan peningkatan generasi ROS.
Kasiat Utama Propolis #3: Protektan Jantung
Aktifitas Kardioprotektif (Perlindungan Jantung)
Modulasi penanda penyakit kardiovaskular dengan propolis telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian. Uji in vitro dan in vivo
telah dikembangkan untuk menjelaskan mekanisme molekuler dari efek
menguntungkan ini, seperti pada: pengaturan metabolisme glukosa dan
lipoprotein; modulasi ekspresi gen; penurunan aktivitas reseptor
pemulung, sitokin inflamasi, dan stres oksidatif; perbaikan fungsi
endotel; dan penghambatan agregasi platelet.
Kasiat Utama Propolis #2: Antioksidan
Aktivitas Propolis sebagai Antioksidan
Hal ini juga ditetapkan bahwa metabolisme sel menghasilkan spesies oksigen reaktif (ROS), seperti hidrogen peroksida (H2O2),
anion superoksida, dan ion hidroksil yang sangat reaktif, serta spesies
nitrogen reaktif (RNS), terutama nitrat oksida (NO). ROS dan RNS adalah
molekul sinyal yang ideal karena mereka dihasilkan secara lokal, sangat
cepat dan diffusible, dan dapat dinetralkan oleh antioksidan seluler
[1, 2]. ROS biasanya didetoksifikasi oleh enzim intraseluler, seperti
glutathione, superoksida dismutase, katalase dan [3]. Namun, produksi
tidak seimbang dan degradasi ROS dan RNS dapat mengakibatkan akumulasi
spesies ini reaktif, sering disebut stres oksidatif sebagai. Paparan
makromolekul (lipid, protein, DNA, dll) untuk reaktif hasil spesies
dalam modifikasi oksidatif dengan efek merusak [4, 5].
Label:
anti inflammatory,
antioksidan,
bee propolis,
kanker,
kanker stadium IV,
melia propolis,
mie instant,
nature,
pelagra,
pemulung,
peroksida,
radikal bebas,
ROS,
sehat sejahtera,
sembuh,
SOD
Sabtu, 18 Juli 2015
Propolis sebagai ANTI TUMOR
914/04 QIKANG ZHANG; JINGJING ZHOU; ZHENHONG WU; ZHONGMIN FU; XIAOQING MIAO [Study on the anti-tumour effect of “Shen Feng” J9311 propolis capsule]. Apiculture of China (2003) 54 (5) 4-6 [Ch, en, Bj] Apitherapy Inst., Fujian Agriculture and forestry Univ., Fujian, China. For S180 tumours, a dose of 0.6-4.8g propolis/kg was found to be effective for inhibition; for H22 tumours, rate of inhibition was quite similar at doses of 0.8, 1.6 and 3.2g/kg. [S180 = Mice Sarcoma Cells 180: A sarcoma (from the Greek ‘sarx’ meaning “flesh”) is a cancer that arises from transformed connective tissue cells] – KDP from WIKIPEDIA].
Selasa, 14 Agustus 2012
Bee Propolis stops Tumors
Bee Propolis Stops Tumors from Neurofibromatosis and Cancer
by Barbara L. Minton
(NaturalNews) Honeybees are some of the most amazing creatures ever created by nature. They play a vital role in much of the food supply through pollination, and they provide people with a healthy natural alternative to sugar. Some of the most interesting aspects of bees are the substances they make to use themselves. Propolis is a natural resin found in young tree buds. Bees collect it for use as a glue to seal their homes. Propolis is an exceedingly complex product that contains substances that prevent and treat diseases ranging from cancer to the common cold. Recent research has documented the ability of propolis to suppress the growth of human tumors from neurofibromatosis and cancer.
Label:
anti inflammatory,
bee propolis,
benjolan di rahim,
herbal,
Indonesia,
kanker,
kanker rahim,
melia propolis,
multiguna,
nature,
sumsum tulang belakang,
vitamin
Selasa, 18 Januari 2011
Kanker Sumsum Tulang Belakang
Kanker Sumsum Tulang Belakang sembuh dengan Melia Propolis dan Melia Biyang
Foto di sebelah adalah Ibu Tumirah (kiri) dan Ibu Safrida (kanan). Tumirah adalah seorang penderita kanker sumsum tulang belakang, sedang Safrida adalah Top Leader member PT MSS wilayah Bogor.
Ceritanya tahun 2007 setelah melahirkan anak pertamanya, Ibu Tumirah mengalami nifas yang tak kunjung berhenti. Setelah diperiksa, Ibu Tumirah didiagnosis menderita anemia. Namun setelah menjalani perawatan tidak kunjung sembuh malah semakin melemah, akhirnya dari pemeriksaan yang lebih intensif, diketahui bahwa Ibu Tumirah menderita kanker sumsum tulang belakang dan sudah mulai menyebar (sel kangker mulai mengalami metastasis). Beliau diputuskan harus menjalani kemoterapi belasan kali. Dengan keterbatasan dana, terpaksa Ibu Tumirah menjalani rawat jalan. Bolak-balik ke RS dengan korsi roda dan naik angkutan umum.
Pada akhirnya, beliau diperkirakan meninggal September 2008. Meskipun begitu sikapnya yang murah senyum dan semangatnya untuk sembuhnya, telah membuat salah seorang wartawan media wanita, meliput dan menyiarkannya untuk menggalang dana pengobatannya. Kebetulan sekali, majalah yang memuat berita Tumirah ini terbaca oleh salah seorang downline Ibu Safrida, yang dengan serta-merta datang menjenguk dan sekaligus mencobakan Melia Propolis dan Melia Biyang.
Tidak perlu diperpanjang, singkat cerita setelah 6 bulan menjalani terapi Melia Propolis dan Melia Biyang, Ibu Tumirah untuk pertama kalinya mampu bangkit dari kursi roda dan berjalan untuk menolong anak semata-wayangnya yang ketika itu jatuh dan menangis. Hingga kini Ibu Tumirah tetap rajin mengonsumsi Melia Propolis dan Melia Biyang dengan dosis lumayan tinggi, mengingat metastasis kankernya yang sudah cukup menghawatirkan.
Yang jelas sekarang Ibu Tumirah sudah merasa bukan sebagai pasien, tetapi ‘mantan’ penderita kanker yang memiliki penghasilan harian cukup lumayan. Satu pesan menarik dari beliau adalah: “Saya, Tumirah, dengan segala kelemahan sebagai penderita kanker telah membuktikan manfaat Propolis dan Biyang. Tumirah mampu menjalankan bisnisnya, apalagi “Bapak – Ibu” sekalian, pasti jauh lebih mampu menyebar luaskan informasi kesehatan ini untuk seluruh masyarakat luas di sekitar Bapak – Ibu, sekalian.”
Salam Sukses dari Bogor.
|
Langganan:
Postingan (Atom)












