Laman

Tampilkan postingan dengan label phenolic acid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label phenolic acid. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2018

Aktivitas Propolis: Antitoksisitas


B. Efek Protektif terhadap Toksititas Obat-Obat dan Agen Kemoterapi Kanker
Parasetamol dan cyclophosphamid dimetabolisasikan dalam hati oleh sitokrom P450. Pembentukan zat antara metabolisme itu bertanggung jawab pada deplesi sel-sel hati (hepatocyte) dari glutathione dan lipoperoxydation. Vinblastine (suatu agen kemoterapi) bersifat hepatotoxic dan hematotoxic. Sedangkan, senyawa-senyawa flavonoid danpolifenol  memiliki beberapa kasiat biologi dan anti-oksidatif. Pengaruh perlakuan oral flavonoid (diosmine dan quercetine) dalam bentuk ekstrak propolis 60 mg/kg setiap hari selama 14 hari, pada toksisitas hematologikal dan hepatik dari dosis tunggal 80 mg/kg cyclophosphamide dengan injeksi intravenous, vinblastine 2 mg/kg dengan injeksi intravena dan toksisitas hepatik parasetamol diterapi dengan konsumsi oral 200 mg/kg berdasarkan 2/3 LD50 tikus Mister Albino betina telah diteliti. Analisis dilakukan pada interval reguler: 1, 3, 7 dan 14 hari setelah pengobatan. Dalam grup tikus dengan perlakuan cyclophosphamid parasetamol saja teramati sejak hari pertama, suatu peningkatan lipid peroxide (MDA) 120%. Dengan cara yang sama, teramati leucopenia dan thrombopenia (70% pengurangan) teramati pada hari ketiga dan hari ke-14 pada tikus dengan perlakuan chemoterapeutic agents saja (cyclophosphamide dan vinblastine).  Kombinasi flavonoid dengan obat-obat telah jelas mereduksi efek toksik dari obat-obatan. Bahkan aplasic teramati dengan vinblastine, sebagaimana dengan leucopenia dan thrombopenia dari cyclophosphamide terkoreksi sepenuhnya. Dengan cara yang sama, para peneliti mencatat suatu laju restorasi peroxide dan glutathone. Flavonoid tampaknya bekerja dengan aktivasi pergantian glutathione dan enzim-enzim yang merangsang terutama glutathion-transferases yang memungkinkan penangkaran metabolit reaktif dari obat yang diteliti (Lahouel et al., 2004).

Aktivitas Propolis: Anti Agen Penyebab Tukak atau Tukak


4. Anti Agen penyebab Tukak (Borok)
Madu dan propolis sebagai pengelola luka-luka (ulcers) kronis pada kulit sudah ditemukan dan dilaporkan oleh Tossoun et al. (1997). Pengaruh penghambatan propolis Bulgaria pada bakteri Helicobacter pylory secara in vitro telah ditelitioleh Boyanova et al. (2003).  Aktivitas dari ekstrak etanol propolis (EEP) 30% telah dievaluasi pada 38 H. pylori yang diisolasi secara klinis dengan metode difusi “agar-well”. Etanol 30% digunakan sebagai kontrol.  Selain itu, pengaruh propolis pada pertumbuhan 26 strain H. pylori dan 18 strain Campylobacter telah diuji dengan metode difusi cawan petri (disc diffusion dengan menggunakan 30, 60, dan 90 µl EEP atau 30 µl per lubang (well) masing-masing dengan ukuran pertumbuhan 17.8, 21.2, 28.2 dan 8.5 mm. EEP secara signifikan melih aktif dibanding etanol melawan H. pylori (P < 0.001). Hasil-hasil yang diperoleh dengan metode difusi cawan menunjukkan karakter yang sama. Penggunaan propolis basah (moist) menghasilkan diameter penghambatan pertumbuhan sebesar 21.4 mm untuk H. pylori dan 13.6 mm untuk Campylobacter spp.  Propolis kering menunjukkan efek antibakteri terhadap 73.1% isolat H. pylori, dengan kecenderungan penghambatan diameter pertumbuhan (15 mm) pada 36.4% isolat lainnya. Penggunaan propolis kering menunjukkan penghambatan diameter pertumbuhan 12.4 mm untuk H. pylori  dan 11.6 mm untuk Campylobacter spp. Mereka menyimpulkan bahwa propolis Bulgaria menunjukkan aktivitas anti bakteri yang perlu dipertimbangkan untuk H. pylori dan dapat menghambat pertumbuhan Campylobacter jejuni dan C. coli (Kimoto et al., 1998).

Sabtu, 20 Januari 2018

Segitiga Antioksidan Propolis


Propolis telah diteliti kandungan bahan aktifnya sejak lama. Komponen zat berkasiat propolis terbanyak adalah senyawa-senyawa fenolat (phenolic compounds) dan flavonoid. Kandungan bahan aktif propolis dipengaruhi oleh asal-usul propolis dan vegetasi yang terdapat di lingkungannya. Namun demikian propolis dari berbagai lokasi memiliki kesamaan kasiat secara farmakologi sebagai: immunomodulatory (meningkatkan imunitas tubuh), anti bakteri, anti jamur, anti virus, anti inflamasi (luka-bakar dan “luka dalam”), penyembuhan luka luar, obat bius dan penghilang rasa nyeri (anastesi dan analgesik) dan anti karsinogenik (anti kanker).

Berbagai penyakit fisiologi manusia umumnya dimediasi oleh adanya “inflamasi” jaringan yang disebabkan oleh stres oksidatif (kekurangan antioksidan). Hal ini terjadi karena semua kegiatan metabolisme seluler selalu menghasilkan radikal bebas (zat oksidator) yang perlu dinetralkan oleh antioksidan yang juga dihasilkan secara berimbang oleh mekanisme metabolisme juga atau asupan dari luar lewat makanan. Ketika antioksidan yang dihasilkan oleh metabolisme seluler tidak mencukupi untuk menetralkan radikal bebas maka akan terjadi stres oksidatif.

Stres oksidatif ini akan menimbulkan “inflamasi” pada jaringan atau sel-sel tubuh dan menimbulkan berbagai macam penyakit fisiologis (deteriorative diseases). Berbagai penyakit itu mencakup diabetes mellitus, gangguan-gangguan pembuluh darah karena terjadinya endapan-endapan (clot) di dalam pembuluh darah, gangguan hati, ginjal bahkan dapat menyebabkan perubahan sifat-sifat sel menjadi sel-sel kanker. Munculnya berbagai gangguan tersebut sering terjadi terkait dengan diabetes mellitus dan sebaliknya, penyakit-penyakit tersebut dapat menimbulkan diabetes. Dengan demikian kunci dari berbagai masalah penyakit fisiologi tersebut, termasuk kanker dan bahkan juga penyakit-penyakit patogenik (akibat bakteri dan virus) adalah ketersediaan antioksidan yang cukup untuk menetralkan atau menyingkirkan (scavenging) radikal bebas yang dihasilkan oleh metabolisme seluler dan yang diproduksi oleh aktivitas patogen.

Propolis telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat karena kandungan senyawa fenolik dan flavonoidnya. Secara skematis aktivitas propolis sebagai antioksidan dapat digambarkan seperti segitiga antioksidan propolis berikut.



Pada gambar segitiga antioksidan propolis di atas terlihat bahwa propolis dapat mencegah atau mengurangi stres oksidatif. Pengurangan stres oksidatif ini dapat mengurangi atau mencegah berbagai penyakit fisiologis yang dimediasi oleh inflamasi jaringan, termasuk diabetes. Pengurangan stres oksidatif juga dapat mencegah terjadinya endapan dalam pembuluh darah, terutama sistem pembuluh darah pada jantung, mencegah penyakit-penyakit terkait dengan penyumbatan pembuluh darah pada jantung.

Pengaruh propolis pada pembuluh darah tersebut juga menjamin plastisitas pembuluh darah di seluruh tubuh. Pembuluh darah yang sehat dapat mencegah terjadinya pembentukan pembuluh darah (angiogenesis) yang diinisiasi oleh sel-sel kanker. Jika kumpulan sel-sel kanker gagal menstimulasi pembuluh darah ke kelompoknya, maka pertumbuhannya akan terhenti karena tidak ada pasokan nutrisi lewat darah. Sel-sel kanker yang tidak berkembang akan mati dan kanker tidak jadi tumbuh, karena kekuatan sabotasenya tidak kuat dan pasokan nutrisi tetap terjadi kepada sel-sel sehat di sekitarnya. Sel-sel kanker akan kelaparan dan akhirnya mati.

Dengan demikian secara ringkas kekuatan antioksidan propolis mampu mencegah berbagai penyakit fisiologi karena dapat menetralkan radikal bebas hasil aktivitas metabolisme seluler dan yang dihasilkan oleh infeksi patogen. Ternetralisasikannya radikal bebas dapat melindungi tubuh dari inflamasi internal yang akibatnya dapat melindungi tubuh manusia dari berbagai penyakit fisiologi, termasuk diantaranya yang paling penting adalah DIABETES MELITUS.

Selanjutnya aktivitas antioksidan tersebut dapat mencegah terjadinya endapan-endapan di dalam pembuluh darah sehingga mampu melindungi jantung dari penyakit-penyakit kardiovaskular. Terakhir, pembuluh darah yang sehat dan ketersediaan antioksidan di dalam jaringan yang mencukupi dapat mencegah proses angiogenesis di kelompok sel-sel kanker yang sedang berkembang, sehingga kekurangan pasokan nutrisi. Hasilnya adalah propolis dapat dijadikan sebagai herbal pencegah pertumbuhan sel-sel kanker bahkan penyembuh kanker. [WDW 2018-01-20]

Disarikan dari:
Daleprane JB, Abdalla DS. 2013. Emerging Roles of Propolis: Antioxidant, Cardioprotective, and Antiangiogenic Actions. Evidence-based Complementary and Alternative Medicine 2013(4):175135

[https://www.researchgate.net/publication/236676194_Emerging_Roles_of_Propolis_Antioxidant_Cardioprotective_and_Antiangiogenic_Actions]

Rabu, 12 Agustus 2015

Awet Muda


Efek Estrogenik

Karena kesamaan struktural flavonoid dan isoflavonoid dengan hormon seks endogen ada peningkatan minat dari para ilmuwan untuk mempelajari efek estrogenik dari propolis. Flavonoid menunjukkan afinitas untuk reseptor estrogen ER-α yang ada dalam payudara, endometrium dan ovarium, juga pada reseptor ER-β estrogen dalam otak, pembuluh darah, paru-paru dan tulang. Potensi aktivitas estrogenik ekastrak etanol dan ekstrak eter propolis dipelajari oleh Song et al. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa propolis menampilkan aktivitas estrogenik dengan mengaktifkan reseptor estrogen [105].

Jung et al. menunjukkan bahwa caffeic acid phenethyl ester (CAPE), dengan struktur yang menyerupai asam fenolik, bertanggung jawab untuk, antara lain, efek estrogenik dari propolis. CAPE menampilkan lebih afinitas terhadap reseptor ER-β daripada reseptor ER-α. Studi menunjukkan bahwa CAPE adalah agonis selektif ER-β dan modulator potensial untuk reseptor estrogen [106]. Penelitian lebih lanjut diperlukan pada pengaruh komponen bioaktif propolis pada reseptor estrogen. Beberapa peneliti telah mengamati bahwa propolis mengandung chrysin yang memblokir transformasi androgen menjadi estrogen dengan menghambat aromatase, yang menyebabkan peningkatan kandungan testosteron. Flavonoid seperti chrysin dan galangin, serta flavon seperti naringenin, menurunkan biosintesis estrogen dengan menghambat aromatase. Kegiatan serupa diamati dalam kasus apigenin [107108].




Propolis telah dikenal dan banyak diteliti sebagai antioksidan kuat pemulung RADIKAL BEBAS, termasuk yang dihasilkan oleh proses peradangan. Kasiat Utama Propolis adalah sebagai ANTIOKSIDAN; Melia Propolis dikemas dalam botol ukuran 6ml, 30 ml dan 55 ml, masing-masing dengan harga eceran Rp 110,000, Rp 275,000  dan Rp 440,000 per botol. Harga paket untuk menjadi member atau harga paket untuk member ada dua macam, paket GOLD : Rp 1,100,000 dan paket PLATINUM Rp 3,025,000 (sudah termasuk pajak penjualan 10%). Pemesanan via e-mail ke mssdramaga@yahoo.com.

Anti Kanker


Efek Anti Kanker (Anti Karsinogenik)

Propolis mengandung zat aktif secara biologis yang dikenal sebagai promotor yang merangsang proliferasi sel dan juga apoptosis (kebalikan dari proliferasi). Di antaranya adalah asam kafeat (caffeic acid), caffeic phenyl ester (CAPE), artepillin C, quercetin, naringenin, resveratrol, galangin, dan genistein [81]. Flavonoid yang dikonsumsi bersama dengan makanan memiliki efek langsung pada proliferasi sel, diferensiasi dan apoptosis sel kanker, terutama berkenaan dengan kanker saluran pencernaan karena kontak langsung dengan ingesta. Efek sitotoksik langsung flavonoid yang terkandung dalam propolis sangat penting dalam kasus kanker payudara dan tumor papillomatous saluran kemih [82]. Flavonoid dalam propolis menghentikan proliferasi berbagai jenis sel kanker, terutama sel leukemia monositik dan limfatik [83]. Mekanisme anticancerogenic terdiri atas penghambatan tirosin kinase C, yang berpartisipasi dalam pertumbuhan dan proliferasi sel kanker [84].

ANTI PERADANGAN

Aktifitas Anti-Inflammatory (anti peradangan)

Aktivitas anti-inflamasi asam fenolik dan flavonoid adalah hasil dari sifat antioksidatif mereka [52,65]. Ketika memperbandingkan struktur kimia flavonoid maka telah dibuktikan bahwa aktivitas anti-inflamasi propolis ditentukan oleh gugus hidroksil pada C-3 ‘dan C-4′ di cincin B dari dua gugus [37] .


Aktivitas anti-inflamasi terkait dengan penurunan sintesis prostaglandin E2 (PGE2), tromboksan A2, leukotrien B4 dan NO (nitric oxide II), yang berpartisipasi dalam reaksi inflamasi. Ini adalah efek menghambat rangkaian transformasi asam arakidonat, karena pengaruh penghambatan pada fosfolipase A2, lipoxygenase (5-, 12-, 15-), cyclooxygenase (COX-2) serta nitricoxide synthase (iNOS). Aktvitas ini sebanding dengan aktivitas analgesik indometasin [44,66-68].

Antibiotik Alami SUPER

Aktivitas sebagai Antibakteri (Antibiotik alami)

Sifat antibakteri propolis telah terbukti dalam berbagai penelitian.Aktivitas anti bakteri lebih besar pada golongan bakteri Gram positif, dibandingkan pada bakteri Gram negatif [57]. Propolis juga memiliki pengaruh antibakteri kuat pada strain Staphylococcus aureussehingga bakteri ini mejadi bakteri yang paling seding digunakan untuk menilai aktivitas antbakteri propolis [58].
 

Kasiat Biologi Polifenol terletak pada Aktivitas Antioksidatifnya


Aktivitas antioksidan polifenol adalah salah satu sifat mereka yang paling berharga. Aktivitas biologi yang berspektrum luas dari senyawa ini terhadap tubuh manusia sebagian besar merupakan hasil dari efek antioksidan ini [26,50]. Sumber radikal bebas dalam organisme yang paling sering adalah spesies oksigen reaktif (ROS). Mereka terbentuk sebagai hasil dari reduksi bertahap molekul oxygenin berupa reaksi satu-elektron. Bentuk spesies nitrogen reaktif (RNS) -nitrogen oksida NO*, nitrogen dioksida NO2* dan asam nitrat HONO2-juga berbahaya bagi kesehatan. Radikal organik terbentuk sebagai hasil dari ROS dan RNS yang bereaksi dengan molekul organik sangat berbahaya. Reaksi ini mengganggu keseimbangan antara produksi dan deaktivasi ROS sehingga menyebabkan berbagai macam gangguan kesehatan [41]. Radikal bebas dapat mengoksidasi protein sel, asam nukleat dan lipida (lemak). Mereka berkontribusi terhadap penuaan protein sel, mutagenesis, karsinogenesis, perkembangan penyakit seperti Parkinson atau Alzheimer. Mereka juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular yang diduga akibat destabilisasi membran sel dan lipoprotein LDL oleh proses oksidasi dari radikal-radikal bebas tersebut (ROS dan RNS) [39,46].
 

Flavonoid dalam Propolis

Flavonoid adalah kelompok polifenol yang sangat banyak jumlahnya, bervariasi dalam dengan struktur dan sifatnya. Flavonoid adalah zat asal tumbuhan yang paling luas penyebarannya [36,37]. Elemen dasar dari struktur flavonoid adalah unit C6-C3-C6 yang terdiri dari 15 atom C, yang mencakup cincin benzoat dan unit fenilpropana (phenylpropane) [38].
 

Asam-asam Fenolat, Zat Aktif Propolis


Asam-asam fenolat adalah senyawa yang tersusun dari cincin benzene, gugus karboksil dan gugis hidroksil Aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat ditentukan oleh jumlah gugus hidroksil pada molekulnya dan efek sterat-nya (steric effect) [23]. Posisi gugus karboksil, seperti halnya tipe substitusi pada cincin aromatik, mempengaruhi aktivitas antioksidatif senyawa-senyawa ini. Pada kenyataannya energi ikata antara ato hydrogen dan atom oksigen dalam gugus hidroksil yang terikat pada sistem cincin aromatik lebih lemah dibandingkan ikatan serupa pada senyawa-senyawa alifatik (aliphatic). Penurunan kepadatan eektron dalam atom oksigen merupakan hasil efek resonansi dari cincin aromatik, oleh karena itulah atom hydrogen yang dilepas dari gugus hidroksil dan senyawa-senyawa frnolat menjadi radikal fenoksi (phenoxy radicals) yang relative stabil karena peningkatan muatan di dalam cincin aromatik (Gambar 1). Penggabungan radikal fenoksi menghasilkan quinines atau masuk ke dalam reaksi lain, seperti contohnya dimerization atau substitusi radikal [24,25]

 
Aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat berbanding terbalik dengan besarnya enthalphy pemecahan ikatan O-H di dalam lingkungan polar lemah. Mekanisme peningkatan lanungan ikatan O-H dalam suatu cincin fenolat dalam transfer atok hydrogen (HAT) menjadi radikal superoksida [26]. Turunan monohidroksi dari asam benzoate dengan satu gugus hidroksil dalam posisi ortho atau para dalam cincin tidak menunjukkan aktivitas antioksidatif, sebaliknya turunan-turunan radikal pada posisi meta-hidroksi membangkitkan radikal dalam fase terlarut. Hal ini terkait dengan kemampuan gugus karboksil menarik electron dan mempengaruhio posisi orto- dan para- dalam cincin. Asam-asam fenlat monohidroksi adalah pemulung efektif untuk radikal hidroksil. Selanjutnya, aktivitas antioksidatif meningkat dalam asam-asam dengan satu gugus hidroksil bersama dengan keberadaan gugus metoksi tambahan di dalam cincin. Substitusi satu gugus alkil atau satu gugus metoksi dalam posisi orto meningkatkan stabilitas dan merupakan kasiatr antioksidan dari asam-asam fenolat [27]

Turunan dihidroksi asam benzoat menunjukkan kasiat antioksidatif sangat kuat ketika gugus hidroksilnya berada pada posisi 3 dan 5. Diantara turunan asam benzoat, asam galat (gallic acid) mengandung tiga gugus hidroksil pada posisi 3, 4 dan 5, telah dikarakterisasi sebagai antioksidan sangat baik dan kuat [24]. Esterifikasi gugus hidroksil asam galat menurunkan kemampuan antioksidannya.

Pengaruh penambahan gugus hidroksil dalam cincin aromatik meningkatkan aktivitas antioksidatif. Hal ini mungkin teramati pula pada kasus asam sinamat (cinnamic acid). Asam kafeat (caffeic acid) memiliki efek antioksidatif lebih kuat dan diikuti oleh Asam kumarat (coumaric acid) [28,29]

Kekuatan antioksidatif asam-asam fenolat ditentukan oleh letak gugus karboksil. Grup karboksil memiliki impak negative pada kasiat donor dari hidroksi benzoat dan turunan-turunannya. Dengan cicin samping yang mengandung gugus etilen, asam hidroksi-sinamat menunjukkan kemampuan donor hydrogen yang lebih besar dan radikal yang terbentuk dalam cara ini lebih mantap (stabil). Oleh karena itu, turunan-turunan dari asam sinamat memilikikasiat antioksidatif yang lebih kuat dibandingkan turunan-turunan asam benzoat [23,30]. Introduksi gugus etilen diantara cincin fenil (phenyl ring) yang mengandung gugus hidroksi dalam posisi para- dan gugus karboksil, seperti pada asam p-kumarat meningkatkan kasiat reduktif dari gugus hiodroksi dibandingkan dengan asam sinamat. Asam ferulat (ferulic acid), dengan satu gugus metoksi pada posisi 3 menunjukkan kemampuan untuk menstabilkan radikal-radikal fenoksi dibandingkan dengan asam p-kumarat [24]. Namun demikian, substitusi hydrogen dalam gugus hidroksil dengan gugus metal mungkin memiliki efek yang bervariasi dalam aktivitas antioksidatif asam-asam febnolat, bergantung pada polaritas lingkungan. Dalam fase lipofilik, turunan asam dihidroksi sinamat menunjukkan kemampuan yang lebih besar untuk menginmobilisasi radikal-radikal bebas turunan monohidroksi. Asam kafeat diindikasi memiliki reaktivitas lebih baikterhadap radikal bebas dalam lingkungan berair dibandingkan asam ferulat. Asam ferulat menunjukkan afinitas terhadap lipida, yang terkait dengan proses substitusi pada Gambar 1 tentang oksidasi senyawa-senyawa fenolat [25].
 
Aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat berbanding terbalik dengan ukuran entalpi (enthalpy) dari pemutusan ikatan O-H dalam suatu lingkuyngan polar yang lemah. Mekanisme pemutusan ikatan O-H dalam cincin fenolat termasuk dalam transfer atom hydrogen (HAT) ke suatu radikal superoksida (superoxide radicals) [26]. Turunan monohidroksi asam benzoat dengan satu gugus hidroksil dalam posisi orto atau para dalam cincin tidak menunjukkan aktivitas antioksidatif pada fase air, berkebalikan dengan turunan radikal yang terbentuk dalam posisi meta-monohidroksi. Hal ini terkait dengan kemampuan gugus karboksil untuk menarik elektron dan mempengaruhi posisi orto atau para pada cincin fenolat. Asam-asam monohidroksi adalah pemulung radikal hidroksil yang efektif. Selanjutnya, aktivitas antioksidan meningkat dalam asam dengan satu gugus hidroksil bersama dengan kehadiran gugus metoksi tambahan dalam cincin. Substitusi gugus alkil atau metoksi pada posisi orto meningkatkan stabilitas dan sifat antioksidan asam-asam fenolat [27]. Turunan-turunan asam dihidroksi-benzoat menunjukkan aktivitas antioksidatif paling kuat ketika gugus hidroksilnya berada pada posisi 3 dan 5. Diantara turunan-turunan asam benzoat, asam galat (gallic acid), mengandung tiga gugus hidroksil pada posisi 3, 4 dan 5, yang telah berhasil dikarakterisasi memiliki kasiat antioksidatif yang sangat baik [24]. Estrifikasi gugus karbnoksilpada asam galat menurunkan kemampuan antioksidannya.

Pengaruh gugus hidroksil tambahan dalam cincin aromatik pada peningkatan aktivitas antioksidatif dapat diamati juga dalam kasus asam sinamat. Asam kafeat memiliki efek yang lebih kuat dari pada asam kumarat [28,29].

Kekuatan aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat ditentukan oleh lokasi gugus karboksil. Gugus ini memiliki dampak negatif pada sifat donor hidroksi-benzoate dan turunan-turunannya. Dengan memiliki rantai samping yang mengandung gugus etilen, asam hidroksi-sinamat menampilkan kemampuan yang lebih besar untuk menyumbangkan hidrogen dan dengan cara ini radikal dibuat menjadi lebih stabil. Dengan demikian, turunan asam sinamat menampilkan sifat antioksidan lebih baik dari pada turunan asam benzoat [23,30]. Pengenalan gugus etilen antara cincin fenil yang mengandung gugus hidroksi pada posisi para dan satu dan gugus karboksil, seperti pada asam p-kumarat, menyebabkan peningkatan sifat reduktif dari kelompok hidroksil dibandingkan dengan asam sinamat. Asam ferulat, dengan kelompok metoksi pada posisi 3 menampilkan kemampuan lebih besar untuk menstabilkan radikal fenoksi dibandingkan asam p-kumarat [24]. Namun, penggantian hidrogen di gugus hidroksil dengan gugus metil mungkin memiliki efek bervariasi pada aktivitas antioksidatif asam fenolat, tergantung pada polaritas lingkungan. Pada fase lipofilik, turunan asam dihidroksi-sinamat menampilkan kemampuan yang lebih besar untuk melumpuhkan radikal bebas dibandingkan turunan-turunan monohidroksinya. Asam kafeat memiliki reaktivitas yang lebih baik terhadap radikal dalam lingkungan air dibandingkan asam ferulat. Asam ferulat menampilkan afinitas untuk lipid, yang terkait dengan substitusi atom hidrogen dalam gugus hidroksil dengan gugus metil. Oleh karena itu, asam ferulat menunjukkan sifat yang lebih baik sebagai antioksidan dalam jenis lingkungan ter-emulsi, seperti minyak dalam air, dibandingkan dengan asam kafeat [24]. Karena adanya gugus metoksi asam ferulat lebih efektif daripada asam p-kumarat. Kelompok metoksi, sebagai donor elektron, menyebabkan peningkatan kemampuan menstabilkan radikal-radikal ariloksi (aryloxy). Hidroksilasi diganti dengan metoksilasi membuat senyawa struktur seperti asam ferulat menjadi senyawa antioksidan yang lebih efektif. Dalam penelitian mereka pada oksidasi lemak, Rice-Evans et al. menyimpulkan bahwa urutan aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat sebagai berikut: asam kafeat > asam ferulat > asam p-kumarat [24]. Brand-Williams et al. [31] menunjukkan bahwa asam ferulat menetralkan radikal bebas lebih efektif daripada BHA (butylated hydroxyanisole) dan BHT (butylated hydroxytoluene), sedangkan Gulcin membuktikan bahwa asam kafeat memiliki sifat pelindung lebih kuat daripada BHT [32]. Aktivitas antioksidan asam fenolik terdiri “pemulungan” radikal bebas (superoksida, hidroksil, dan radikal-radikal superoksida hidroksil), mengkhelat ion logam (besi, tembaga), serta mengubah aktivitas enzim dengan menghambat oksidase [33-35]


 

Propolis telah dikenal dan banyak diteliti sebagai antioksidan kuat pemulung RADIKAL BEBAS, termasuk yang dihasilkan oleh proses peradangan. Kasiat Utama Propolis adalah sebagai ANTIOKSIDAN; Melia Propolis dikemas dalam botol ukuran 6ml, 30 ml dan 55 ml, masing-masing dengan harga eceran Rp 110,000, Rp 275,000  dan Rp 440,000 per botol. Harga paket untuk menjadi member atau harga paket untuk member ada dua macam, GOLD : Rp 1,225,000 dan PLATINUM Rp 3,025,000 (sudah termasuk pajak penjualan 10%). Pemesanan via e-mail ke mssdramaga@yahoo.com.

Kandungan Fungsional Propolis

Hingga sekarang, ada sekitar 300 senyawa yang sudah berhasil diidentifikasi terdapat di dalam propolis. Berikut ini adalah pengelompokan senyawa-senyawa tersebut yang selanjutnya dikenal sebagai kandungan dasar propolis: asam-asam fenolat, flavonoid, terpene, senyawa lemak-lilin, lilin lebah, kandungan biologi dan komponen-komponen lain seperti vitamin, protein, asam amino dan gula [4, 8, 11].



Selasa, 11 Agustus 2015

Review Propolis Polandia


Terjemahan  artikel Review di majalah "Molecules 2014, 19, 78-101"; “Structure and Antioxidant Activity of Polyphenols Derived from Propolis” tulisan: Anna Kurek-Górecka1, Anna Rzepecka-Stojko2, Michal Górecki3, Jerzy Stojko4, Marian Sosada3 and Grazyna Swierczek-Zieba1 
  1. Silesian Medical College in Katowice, Mickiewicza 29, Katowice 40-085 
  2. Department of Pharmaceutical Chemistry, School of Pharmacy with the Division of LaboratoryMedicine, Medical University of Silesia 
  3. Department of Drug Technology, School of Pharmacy with the Division of Laboratory Medicine, Medical University of Silesia 
  4. Department of Hygiene, Bioanalysis and Environmental Studies, School of Pharmacy with theDivision of Laboratory Medicine, Medical University of Silesia, Kasztanowa 3A,Sosnowiec 41-200, Poland

RINGKASAN

Propolis adalah sumber potensial antioksidan alami seperti asam-asam fenolat dan flavonoid. Propolis mempunyai pengaruh (kasiat) biologi yang sangat luas dan sudah digunakan sejak jaman kuna. Di dunia modern, senyawa-senyawa alami itu diduga dapat digunakan untuk menetralkan (meniadakan) pengaruh-pengaruh buruk stress oksidatif yang merupakan penyebab penting berbagai macam penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes dan pengerasan (terbentuknya plaque atau endapan) dan penyumbatan pembuluh darah arteri. Tinjauan ini bertujuan menampilkan aktivitas antioksidatif asam-asam fenolat dan flavonoid yang terkandung di dalam propolis asal Polandia dan hubungannya dengan struktur kimia dan aktifitas antioksidatif yang mempengaruhi manfaat medisnya. Data tentang aktivitas biologi propolis diringkas pada tulisan ini, termasuk aktivitas anti bekteri, anti-peradangan (anti-inflammatory), anti karsinogenik, anti-aterogenik, efek estrogenik, juga sebagai menetral virus AIDS dan fungsi reparative-regeneratifnya.

Kata-kata Kunci: propolis, aktivitas antioksidan, asam fenolat, flavonoid